Day #1: Macau!

Setelah melewatkan waktu selama lebih kurang 5 jam di pesawat, akhirnya Viva Macau yang kami tumpangi pun mendarat di Bandara Internasional Macau. Kami tiba sekitar pukul 01.30 dini hari waktu Macau. Hawa dingin langsung menyergap sekujur tubuh. Untung kami tidak lupa membawa jaket. Memang, ada baiknya sebelum mengunjungi suatu tempat, sebelumnya kita mencari tahu info mengenai cuaca di tempat tersebut, agar tidak terjadi salah kostum karena membawa pakaian yang tidak sesuai dengan cuaca.

Setelah melewati imigrasi, dengan bantuan peta hasil print yang kami bawa, Taxi pun meluncur ke Augusters Lodge yang terletak di Rua de Dr. Pedro Jose Lobo. Selama perjalanan, saya terkagum dengan cahaya lampu Macau. Setiap sudut jalan berjajar kasino-kasino dengan desain dan arsitektur yang unik dan menarik. Sayang saya tidak sempat mengabadikannya.

Sekitar pukul 02.00 dini hari, kami pun tiba di hostel. Naik ke lantai 3, menekan bel, lalu kami pun check in di tengah kantuk penjaga hostel. Tak banyak yang bisa kami lakukan saat itu selain membersihkan diri dan beranjak tidur. Continue reading

Beryl’s Chocolate

Ngaku penggemar cokelat?

Buat kamu yang ngaku penggemar cokelat tentu tak asing lagi dengan yang namanya Silverqueen ataupun cokelat berlabel Delfi dan Cadburry. Memang, sebagian besar produk cokelat yang kita nikmati seringkali berasal dari dua label tersebut. Dari berbagai macam rasa dan varian dapat kita jumpai di supermarket hingga toko pinggir jalan.

Tapi pernahkah kamu mendengar cokelat Beryl’s?

Beryl’s merupakan label produk cokelat asal negeri jiran, Malaysia. Memang, jika selama ini kita boleh geram dan gemas akan beberapa tingkah laku mereka yang memancing kontroversi, kali ini boleh lah kita sedikit merasakan salah satu ’kemanisan’ mereka. Paling tidak melalui cokelat ini, kita bisa melupakan sejenak kontroversi diantara Indonesia dengan Malaysia dan terlarut dalam nikmatnya ’little brown devil’ ini. Yuk, mari… Continue reading

Low Price, Comfort & High Class @ Ngopi Doeloe

Belakangan, minum kopi atau ngopi sudah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat di kota besar. Kegiatan ngopi yang sejatinya hanya duduk, minum, lalu pergi beralih menjadi minum, baca, nongkrong, ngobrol dan online. Tempatnya pun bukanlah warung kopi di pinggir jalan, tapi beralih ke dalam area mall hingga perkantoran. Waktu tak menjadi soal. Didukung kenyamanan sofa dan kursi serta akses internet gratis semakin membuat orang betah ngopi berlama-lama. Dan tentu saja dengan pelayanan dan fasilitas yang nyaman tersebut harus kita bayar dengan harga secangkir kopi yang lumayan mahal. Jika di warung pinggiran secangkir kopi dapat kita nikmati dengan harga tak lebih dari Rp 2.000,- perak, di kedai kopi modern ini secangkir kopi dapat dinikmati dengan harga mulai dari Rp 25.000,-.

Ngopi DoeloeTapi untungnya, di Bandung, saya menemukan kedai kopi yang lumayan asyik dan nyaman. Dan tentu saja dengan harga yang cukup terjangkau jika dibandingkan gerai kopi semacam Starbucks. Ngopi Doeloe, begitulah nama kedai ini. Letaknya di belakang Gramedia Dago (Jl. Purnawarman, sebelum BEC). Dengan ruangan yang luas dan cukup terang karena memakai dinding kaca, rasanya tempat ini bisa jadi tempat nongkrong yang asik. Entah sekedar menikmati kopi, online di internet, atau berkumpul bersama teman. Interior ruangannya ditata minimalis dengan beberapa kursi dan sofa empuk yang bisa membuat kita betah berlama-lama. Sebagai aksen, beberapa sudut dinding, dipasang kaca yang besar agar menambah kesan lapang dan luas tempat ini. Tampak pula beberapa sudut dinding yang dilukis dengan pola modern dan mencerminkan gaya khas anak muda yang dinamis. Continue reading

The Kiosk #2: Tongseng!

yang juga maknyusss…

Melanjutkan rasa penasaran saya akan kuliner tradisional, hari Minggu kemarin (26/7/09) saya kembali datang ke The Kiosk Dago. Kali ini saya akan mencoba menu lain setelah sebelumnya mencoba Iga Bakar si Jangkung.

Saya datang agak siang, menjelang waktu makan siang. Ketika sampai suasana sudah cukup ramai. Untung ada pengunjung yang sudah selesai sehingga mejanya bisa dipakai. suasana DkioskSaya dan istri duduk di meja nomor 7 yang terletak dekat gerobak Lontong Kari. Tidak seperti sebelumnya, dimana saat memesan makanan saya harus mendatangi kios yang diinginkan, lalu duduk menunggu pesanan, kali ini saya memanggil pelayan dan meminta buku menu. Setelah melihat rupa kuliner yang ditawarkan, akhirnya saya memilih menu Tongseng Sapi si Jangkung, sedangkan istri memesan Iga Bakar si Jangkung. Untuk Tongseng, kita akan diberi 2 pilihan daging. Mau daging sapi atau daging kambing. Kebetulan kali ini saya memilih daging sapi.Untuk minuman, meski siang hari, saya memesan Teh Poci, sedangkan istri memesan Hot Lemon Tea. Continue reading

Sensasi Rasa: Bakmie Jowo DU 67

Pak Bondan sudah mampir ke sini belum…?

Hawa Bandung yang dingin didukung perut lapar kembali menggiring saya ke sebuah kedai bakmie yang terletak di pinggiran Jalan Dipati Ukur. Sebuah kedai Bakmie yang konon menawarkan tradisionalitas masakan bakmie, yaitu Bakmie Jawa DU 67.

Suasana Bakmie Jowo DU 67

Suasana Bakmie Jowo DU 67

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya bersama isteri mencoba bakmie di tempat ini. Setidaknya kami pernah mencoba bakmie di tempat ini dua kali. Pertama, kami mencobanya saat siang hari (bukan waktu yang tepat sebenarnya) saat tempat ini belum terlalu ramai. Dan, kedua kalinya kami mencoba di malam hari (nah, ini baru tepat). Entah karena kangen rasa dan suasananya ataukah hanya karena dinginnya Bandung yang mendorong kami kembali kesini.

Seperti namanya, Bakmie Jowo 67 ini menyajikan menu khusus Bakmie, yaitu Bakmie Goreng, Bakmie Godhog, dan Bakmie Nyemek. Menu pelengkap lainnya berupa tambahan ati ampela, kripik paru, krupuk kulit, hingga nasi goreng. Untuk minuman, tempat ini menawarkan teh poci dan wedang ronde sebagai andalannya. Meski begitu, minuman umum lain semacam jus, es teh, soda gembira pun tersedia di sini. Dan untuk malam ini, saya memesan seporsi Bakmie Godhog, Bakmie Goreng Ati Ampela untuk istri, dan satu porsi Teh Poci dengan 2 cangkir. Continue reading

The Kiosk: Iga Bakar Si Jangkung

Maknyuss lho, Pak Bondan…

Selama ini kalau kita mendengar yang namanya iga bakar pasti langsung terbayang daging iga yang masih menempel di tulang, dipanggang dengan bumbu saus barbeque, dan disajikan hangat bersama nasi putih pulen. Ternyata apa yang kita dengar tak semuanya benar. Terbukti dengan apa yang saya rasakan saat menghabiskan weekend kemarin di Bandung.

Perut lapar mendorong saya untuk menyetop angkot (turun) di depan Pizza Hut Dago (depan Dago Plaza, bukan Pizza HUT Bandung Indah Plaza). Bukan Pizza Hut yang dituju, bukan pula Hanamasa, tapi saya naik sedikit ke atas menuju The Kiosk Dago. Dalam sekejap, bau-bau menggugah selera masuk ke hidung.  Beragam kuliner khas yang jarang kita temukan tersedia di sini. Sebut saja Soto Sulung, Tahu Gejrot, Es Campur, Karedok, Ketupat Sayur, Tempe Penyet, Iga Bakar, hingga Laksa. Menuruti rekomendasi isteri, saya pun manut saja ketika dia memesan dua porsi Iga Bakar si Jangkung. Continue reading