Low Price, Comfort & High Class @ Ngopi Doeloe

Belakangan, minum kopi atau ngopi sudah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat di kota besar. Kegiatan ngopi yang sejatinya hanya duduk, minum, lalu pergi beralih menjadi minum, baca, nongkrong, ngobrol dan online. Tempatnya pun bukanlah warung kopi di pinggir jalan, tapi beralih ke dalam area mall hingga perkantoran. Waktu tak menjadi soal. Didukung kenyamanan sofa dan kursi serta akses internet gratis semakin membuat orang betah ngopi berlama-lama. Dan tentu saja dengan pelayanan dan fasilitas yang nyaman tersebut harus kita bayar dengan harga secangkir kopi yang lumayan mahal. Jika di warung pinggiran secangkir kopi dapat kita nikmati dengan harga tak lebih dari Rp 2.000,- perak, di kedai kopi modern ini secangkir kopi dapat dinikmati dengan harga mulai dari Rp 25.000,-.

Ngopi DoeloeTapi untungnya, di Bandung, saya menemukan kedai kopi yang lumayan asyik dan nyaman. Dan tentu saja dengan harga yang cukup terjangkau jika dibandingkan gerai kopi semacam Starbucks. Ngopi Doeloe, begitulah nama kedai ini. Letaknya di belakang Gramedia Dago (Jl. Purnawarman, sebelum BEC). Dengan ruangan yang luas dan cukup terang karena memakai dinding kaca, rasanya tempat ini bisa jadi tempat nongkrong yang asik. Entah sekedar menikmati kopi, online di internet, atau berkumpul bersama teman. Interior ruangannya ditata minimalis dengan beberapa kursi dan sofa empuk yang bisa membuat kita betah berlama-lama. Sebagai aksen, beberapa sudut dinding, dipasang kaca yang besar agar menambah kesan lapang dan luas tempat ini. Tampak pula beberapa sudut dinding yang dilukis dengan pola modern dan mencerminkan gaya khas anak muda yang dinamis. Continue reading

Advertisements

The Kiosk #2: Tongseng!

yang juga maknyusss…

Melanjutkan rasa penasaran saya akan kuliner tradisional, hari Minggu kemarin (26/7/09) saya kembali datang ke The Kiosk Dago. Kali ini saya akan mencoba menu lain setelah sebelumnya mencoba Iga Bakar si Jangkung.

Saya datang agak siang, menjelang waktu makan siang. Ketika sampai suasana sudah cukup ramai. Untung ada pengunjung yang sudah selesai sehingga mejanya bisa dipakai. suasana DkioskSaya dan istri duduk di meja nomor 7 yang terletak dekat gerobak Lontong Kari. Tidak seperti sebelumnya, dimana saat memesan makanan saya harus mendatangi kios yang diinginkan, lalu duduk menunggu pesanan, kali ini saya memanggil pelayan dan meminta buku menu. Setelah melihat rupa kuliner yang ditawarkan, akhirnya saya memilih menu Tongseng Sapi si Jangkung, sedangkan istri memesan Iga Bakar si Jangkung. Untuk Tongseng, kita akan diberi 2 pilihan daging. Mau daging sapi atau daging kambing. Kebetulan kali ini saya memilih daging sapi.Untuk minuman, meski siang hari, saya memesan Teh Poci, sedangkan istri memesan Hot Lemon Tea. Continue reading

KL Trip: Day #4

Back to Indonesia…!

pagi hari di Deluxe Room First World HotelSetelah 2 hari 2 malam menikmati KL dan semalam menikmati Genting Highlands, akhirnya hari ini kami harus kembali ke Indonesia. Berhubung waktu check out pukul 12.00, kami berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa dengan baik. Sekitar pukul 08.00 pagi kami baru terbangun. Udara masih terasa dingin sekali. Bahkan dari jendela pun hanya terlihat warna putih tanda kabut tebal menutupi pemandangan. Memang dari saat kami check in kemarin hingga pagi ini, belum satu kali pun kami menikmati pemandangan dari lantai 24 First World Hotel ini selain warna putih gumpalan kabut dan uap air yang mengembun di bibir jendela. Fasilitas TV dan radio pun tak sempat kami nikmati, juga fasilitas save deposit box yang tersedia di kamar. Waktu inap kami yang hanya semalam terasa masih kurang setelah kami mengalami proses check in yang memakan waktu hingga 4 jam. Dan di hari sepagi dan sedingin ini kami harus bangun dan segera turun untuk sarapan jika tidak ingin kehabisan.

Breakfast Time-First World Cafe

Sekedar informasi, sarapan pagi disediakan gratis oleh pihak hotel. Akan tetapi waktu dan jatah makanannya terbatas. Waktu sarapan dimulai pukul 08.00 hingga pukul 11.00 dan bertempat di First World Cafe di lantai 8. Oleh karena itu agar tidak terlambat sarapan, kami tidak mandi, tapi hanya sekedar cuci muka dan gosok gigi, lalu bersegera turun ke lantai 8. Continue reading

The Kiosk: Iga Bakar Si Jangkung

Maknyuss lho, Pak Bondan…

Selama ini kalau kita mendengar yang namanya iga bakar pasti langsung terbayang daging iga yang masih menempel di tulang, dipanggang dengan bumbu saus barbeque, dan disajikan hangat bersama nasi putih pulen. Ternyata apa yang kita dengar tak semuanya benar. Terbukti dengan apa yang saya rasakan saat menghabiskan weekend kemarin di Bandung.

Perut lapar mendorong saya untuk menyetop angkot (turun) di depan Pizza Hut Dago (depan Dago Plaza, bukan Pizza HUT Bandung Indah Plaza). Bukan Pizza Hut yang dituju, bukan pula Hanamasa, tapi saya naik sedikit ke atas menuju The Kiosk Dago. Dalam sekejap, bau-bau menggugah selera masuk ke hidung.  Beragam kuliner khas yang jarang kita temukan tersedia di sini. Sebut saja Soto Sulung, Tahu Gejrot, Es Campur, Karedok, Ketupat Sayur, Tempe Penyet, Iga Bakar, hingga Laksa. Menuruti rekomendasi isteri, saya pun manut saja ketika dia memesan dua porsi Iga Bakar si Jangkung. Continue reading