Day #2: Hongkong Walking Tour!

Di hari kedua perjalanan ini, suasana pagi di Hongkong tidak jauh berbeda dengan di Macau. Langit berkabut dan hawa dingin masih menyapa. Tetapi hal itu tetap tidak menyurutkan niat kami berkeliling Hongkong hari ini. Maka segera setelah mandi, berpindah hostel (dari Kowloon New Hostel di Mirador Mansion ke Mapple Leaf Hostel di Chungking Mansion), dan mencoba sarapan di warung Arab di lantai dasar Chungking Mansion, kami pun siap memulai perjalanan menyusuri Hongkong.

Avenue of Stars & Clock Tower

Merujuk pada peta yang kami punya, Avenue of Stars merupakan lokasi terdekat yang bisa kami kunjungi dengan hanya berjalan kaki. Avenue of Stars merupakan sebuah area pejalan kaki yang mengambil contoh dari Hollywood Walk of Fame, terletak di sepanjang jalan Victoria Harbour di Tsim Sha Tsui. Avenue of Stars ini merupakan bentuk penghargaan terhadap insan perfilman Hongkong. Di sini terdapat cap telapak tangan artis-artis Hongkong, dari Bruce Lee hingga Jackie Chan. Di tempat ini, kami cukup puas berfoto dan menikmati udara di tepi laut yang segar. Sayang, pemandangan indah Hongkong Island di seberang lautan tidak tampak jelas karena terhalang kabut yang cukup tebal. Banyak turis yang berfoto, juga ada penduduk sekitar yang berolahraga. Di laut, Continue reading

Advertisements

Day #1: Macau!

Setelah melewatkan waktu selama lebih kurang 5 jam di pesawat, akhirnya Viva Macau yang kami tumpangi pun mendarat di Bandara Internasional Macau. Kami tiba sekitar pukul 01.30 dini hari waktu Macau. Hawa dingin langsung menyergap sekujur tubuh. Untung kami tidak lupa membawa jaket. Memang, ada baiknya sebelum mengunjungi suatu tempat, sebelumnya kita mencari tahu info mengenai cuaca di tempat tersebut, agar tidak terjadi salah kostum karena membawa pakaian yang tidak sesuai dengan cuaca.

Setelah melewati imigrasi, dengan bantuan peta hasil print yang kami bawa, Taxi pun meluncur ke Augusters Lodge yang terletak di Rua de Dr. Pedro Jose Lobo. Selama perjalanan, saya terkagum dengan cahaya lampu Macau. Setiap sudut jalan berjajar kasino-kasino dengan desain dan arsitektur yang unik dan menarik. Sayang saya tidak sempat mengabadikannya.

Sekitar pukul 02.00 dini hari, kami pun tiba di hostel. Naik ke lantai 3, menekan bel, lalu kami pun check in di tengah kantuk penjaga hostel. Tak banyak yang bisa kami lakukan saat itu selain membersihkan diri dan beranjak tidur. Continue reading

Beryl’s Chocolate

Ngaku penggemar cokelat?

Buat kamu yang ngaku penggemar cokelat tentu tak asing lagi dengan yang namanya Silverqueen ataupun cokelat berlabel Delfi dan Cadburry. Memang, sebagian besar produk cokelat yang kita nikmati seringkali berasal dari dua label tersebut. Dari berbagai macam rasa dan varian dapat kita jumpai di supermarket hingga toko pinggir jalan.

Tapi pernahkah kamu mendengar cokelat Beryl’s?

Beryl’s merupakan label produk cokelat asal negeri jiran, Malaysia. Memang, jika selama ini kita boleh geram dan gemas akan beberapa tingkah laku mereka yang memancing kontroversi, kali ini boleh lah kita sedikit merasakan salah satu ’kemanisan’ mereka. Paling tidak melalui cokelat ini, kita bisa melupakan sejenak kontroversi diantara Indonesia dengan Malaysia dan terlarut dalam nikmatnya ’little brown devil’ ini. Yuk, mari… Continue reading

Low Price, Comfort & High Class @ Ngopi Doeloe

Belakangan, minum kopi atau ngopi sudah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat di kota besar. Kegiatan ngopi yang sejatinya hanya duduk, minum, lalu pergi beralih menjadi minum, baca, nongkrong, ngobrol dan online. Tempatnya pun bukanlah warung kopi di pinggir jalan, tapi beralih ke dalam area mall hingga perkantoran. Waktu tak menjadi soal. Didukung kenyamanan sofa dan kursi serta akses internet gratis semakin membuat orang betah ngopi berlama-lama. Dan tentu saja dengan pelayanan dan fasilitas yang nyaman tersebut harus kita bayar dengan harga secangkir kopi yang lumayan mahal. Jika di warung pinggiran secangkir kopi dapat kita nikmati dengan harga tak lebih dari Rp 2.000,- perak, di kedai kopi modern ini secangkir kopi dapat dinikmati dengan harga mulai dari Rp 25.000,-.

Ngopi DoeloeTapi untungnya, di Bandung, saya menemukan kedai kopi yang lumayan asyik dan nyaman. Dan tentu saja dengan harga yang cukup terjangkau jika dibandingkan gerai kopi semacam Starbucks. Ngopi Doeloe, begitulah nama kedai ini. Letaknya di belakang Gramedia Dago (Jl. Purnawarman, sebelum BEC). Dengan ruangan yang luas dan cukup terang karena memakai dinding kaca, rasanya tempat ini bisa jadi tempat nongkrong yang asik. Entah sekedar menikmati kopi, online di internet, atau berkumpul bersama teman. Interior ruangannya ditata minimalis dengan beberapa kursi dan sofa empuk yang bisa membuat kita betah berlama-lama. Sebagai aksen, beberapa sudut dinding, dipasang kaca yang besar agar menambah kesan lapang dan luas tempat ini. Tampak pula beberapa sudut dinding yang dilukis dengan pola modern dan mencerminkan gaya khas anak muda yang dinamis. Continue reading

The Kiosk #2: Tongseng!

yang juga maknyusss…

Melanjutkan rasa penasaran saya akan kuliner tradisional, hari Minggu kemarin (26/7/09) saya kembali datang ke The Kiosk Dago. Kali ini saya akan mencoba menu lain setelah sebelumnya mencoba Iga Bakar si Jangkung.

Saya datang agak siang, menjelang waktu makan siang. Ketika sampai suasana sudah cukup ramai. Untung ada pengunjung yang sudah selesai sehingga mejanya bisa dipakai. suasana DkioskSaya dan istri duduk di meja nomor 7 yang terletak dekat gerobak Lontong Kari. Tidak seperti sebelumnya, dimana saat memesan makanan saya harus mendatangi kios yang diinginkan, lalu duduk menunggu pesanan, kali ini saya memanggil pelayan dan meminta buku menu. Setelah melihat rupa kuliner yang ditawarkan, akhirnya saya memilih menu Tongseng Sapi si Jangkung, sedangkan istri memesan Iga Bakar si Jangkung. Untuk Tongseng, kita akan diberi 2 pilihan daging. Mau daging sapi atau daging kambing. Kebetulan kali ini saya memilih daging sapi.Untuk minuman, meski siang hari, saya memesan Teh Poci, sedangkan istri memesan Hot Lemon Tea. Continue reading

KL Trip: Day #1

from Bandung to KL…

Saat ini berlibur di luar negeri bukanlah sesuatu yang sulit diwujudkan. Didukung dengan adanya penerbangan murah hingga promo tiket Rp 0,- yang ditambah lagi dengan adanya pembebasan fiskal bagi pemegang kartu NPWP semakin meringankan biaya. Seperti yang saya lakukan bersama istri saya beberapa waktu yang lalu. Liburan ini merupakan liburan berdua pertama kalinya bagi kami. Berbekal persiapan dan informasi dari internet serta promo tiket pesawat, kami pun berlibur ke Kuala Lumpur, Malaysia. Demi mendapatkan harga tiket yang murah, kami berangkat dari Bandung.

Berangkat dari Bandara Husein Sastranegara, pesawat Air Asia yang kami naiki pun mulai take off sekitar pukul 06.00 WIB. Lama perjalanan sekitar 2 jam. Dengan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat di Malaysia, kami sampai di LCCT sekitar pukul 09.00 waktu Malaysia. Setelah melalui proses pengecekan imigrasi dan pemindaian suhu, kami melanjutkan perjalanan keluar dari LCCT menuju Kuala lumpur. Dekat pintu keluar terdapat beberapa loket bus yang bertujuan KL Sentral. Sebagai informasi, KL Sentral merupakan pusat terminal transportasi di Kuala Lumpur. Berbagai macam kereta dan bus bermuara dan berangkat dari terminal ini.

LCCT-KL Sentral-Bukit Bintang

suasana AerobusAwalnya kami ingin naik Skybus milik Air Asia dengan tarif RM 9 per orang, namun sayang loketnya kosong sehingga kami naik Aerobus dengan tarif RM 8 per orang. Ternyata Aerobus pun cukup nyaman dinaiki. Hingga tak sadar kamipun tertidur hingga bus sampai di KL Sentral sekitar pukul 11.00. Selanjutnya berbekal kertas print pemesanan hostel dan bertanya orang, kami keluar dari KL Sentral dan mencari stasiun KL Monorail yang letaknya di luar KL Sentral. Tiba di stasiun KL Monorail, kami membeli tiket untuk tujuan Bukit Bintang Stesen dengan rate RM 2.1/orang. Dalam waktu sekitar 15 menit kami pun sampai di Bukit Bintang yang notabene adalah kawasan ramai di KL (semacam Orchard Road). Di sekitar Bukit Bintang terdapat berbagai macam mall dan hotel. Continue reading

Sensasi Rasa: Bakmie Jowo DU 67

Pak Bondan sudah mampir ke sini belum…?

Hawa Bandung yang dingin didukung perut lapar kembali menggiring saya ke sebuah kedai bakmie yang terletak di pinggiran Jalan Dipati Ukur. Sebuah kedai Bakmie yang konon menawarkan tradisionalitas masakan bakmie, yaitu Bakmie Jawa DU 67.

Suasana Bakmie Jowo DU 67

Suasana Bakmie Jowo DU 67

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya bersama isteri mencoba bakmie di tempat ini. Setidaknya kami pernah mencoba bakmie di tempat ini dua kali. Pertama, kami mencobanya saat siang hari (bukan waktu yang tepat sebenarnya) saat tempat ini belum terlalu ramai. Dan, kedua kalinya kami mencoba di malam hari (nah, ini baru tepat). Entah karena kangen rasa dan suasananya ataukah hanya karena dinginnya Bandung yang mendorong kami kembali kesini.

Seperti namanya, Bakmie Jowo 67 ini menyajikan menu khusus Bakmie, yaitu Bakmie Goreng, Bakmie Godhog, dan Bakmie Nyemek. Menu pelengkap lainnya berupa tambahan ati ampela, kripik paru, krupuk kulit, hingga nasi goreng. Untuk minuman, tempat ini menawarkan teh poci dan wedang ronde sebagai andalannya. Meski begitu, minuman umum lain semacam jus, es teh, soda gembira pun tersedia di sini. Dan untuk malam ini, saya memesan seporsi Bakmie Godhog, Bakmie Goreng Ati Ampela untuk istri, dan satu porsi Teh Poci dengan 2 cangkir. Continue reading