KL Trip: Day #3

Let’s go to Genting…!

Di hari ketiga ini merupakan hari terakhir kami di KL. Rencananya kami akan pergi ke Genting Highlands, sebuah resort wisata super lengkap yang terletak di atas bukit. Di Genting, kami akan menginap di First World Hotel yang konon memiliki lebih dari 6.000 kamar. Hiburan yang dapat dinikmati disini antara lain Indoor Theme Park (di dalam First World Hotel) dan Outdoor Theme Park (di luar hotel), serta kasino. Khusus untuk kasino, warga negara Malaysia yang muslim dilarang masuk ke tempat ini. Untuk menuju Genting Highlands, dari KL Sentral kita bisa naik taksi atau Bus Go Genting.

Paradiso Beds & Breakfast Last Day

Barang bawaanDikarenakan perjalanan hari sebelumnya yang cukup menguras tenaga, terutama kekuatan kaki, sukses membuat kami tertidur pulas dan bangun cukup siang. Karena waktu sarapan pagi yang dimulai pukul 07.00-08.00 akhirnya saya bangun duluan untuk mandi dan sarapan lalu mengambil jatah istri untuk dibawa ke kamar. Pagi itu kami berkemas. Bawaan yang tadinya hanya berupa satu tas selempang kecil, backpack, dan koper membengkak karena ditambah satu tas jinjing dan plastik besar yang berisi oleh-oleh hasil perburuan dua hari kemarin. Akhirnya setelah bersusah payah mengemasi barang bawaan, sekitar pukul 11.00 kami pun check out dari hostel dengan memberikan kunci kamar serta meminta deposit RM 10 yang telah dibayarkan pada saat check in.

Rencana awal untuk naik KL Monorail menuju KL Sentral akhirnya batal dikarenakan bawaan yang cukup merepotkan. Hasilnya saya pun kembali nego dengan sopir taksi yang ngetem di sekitar hostel dan akhirnya sepakat dengan tarif RM 12 untuk tujuan dari Bukit Bintang ke KL Sentral.

KL Sentral-Genting Highlands

Genting HighlandsTiba di KL Sentral, kami langsung menuju loket bus Go Genting untuk membeli tiket. Sayang kami kurang beruntung, tiket keberangkatan untuk saat itu telah habis hingga pukul 03.00 sore. Padahal saat itu waktu baru menunjukkan sekitar pukul 11.30. Seorang calo pun datang menawarkan taksi kepada kami seharga RM 80 dari KL Sentral hingga Genting Highlands. Jelas kami menolak dan mencoba memikirkan alternatif selanjutnya. Memang di waktu weekend begini (kebetulan saat itu hari Sabtu) kebanyakan warga KL menuju luar kota untuk sekedar berlibur, dan Genting merupakan salah satu tujuan utama, jadi tak heran jika tiket bus Go Genting seharga RM 8.30 (termasuk tiket Skyway Cable Car) ludes terjual hingga pukul 03.00 sore.

Akhirnya kami bertemu pasangan bapak ibu yang juga ingin pergi ke Genting. Setelah ngobrol sebentar, akhirnya kami sepakat untuk naik taksi dengan membayar patungan. Yang parahnya lagi, mengetahui kami telah terpaksa, si calo malah menawarkan harga RM 100 hingga depan pintu First World Hotel dengan alasan harga RM 80 sebelumnya hanya sampai loket Skyway Cable Car (kereta gantung). Karena terpaksa dan waktu makin beranjak siang, akhirnya kami naik taksi juga menuju ke genting. RM 100 berdua, berarti kami hanya perlu membayar RM 50 saja. Lumayan hemat RM 30 daripada tawaran RM 80 tadi, meski untuk itu kami harus berbagi tempat duduk dengan pasangan bapak ibu tadi. Dan untuk itu pula, rencana awal menikmati perjalanan melalui Skyway Cable Car kami batalkan.

Sepanjang perjalanan, kami sempat mengobrol dengan si ibu, sedang si bapak hanya mengobrol sesekali. Selama hampir 1 jam lebih kami terbuai dengan perjalanan yang bisa dibilang sangat lancar. dalam taksi menuju GentingKeluar dari KL, kami lalu masuk tol dan melaju tanpa hambatan hingga memasuki kawasan Genting Highlands. Ada satu hal yang berbeda, di sini, sepeda motor bisa masuk tol, tidak seperti di Indonesia. Meskipun begitu, masuknya sepeda motor di tol tidak berpengaruh terhadap kelancaran lalu lintas. Begitu banyak kelokan dan tanjakan yang kami lewati sepanjang perjalanan. Perlahan suhu mulai turun, udara terasa makin dingin. Kabut tipis mulai tampak. Sekilas saya jadi teringatkan akan lalu lintas menuju kawasan Puncak yang selalu macet total saat weekend atau waktu liburan tiba. Ah, andaikan kawasan Puncak ditata lebih baik lagi, baik dari segi fasilitas hiburan maupun transportasinya, tentu bisa mengalahkan popularitas Genting Highlands ini.

First World Hotel

Sekitar pukul 12.00 lebih kami pun tiba di depan First World Hotel. Setelah membayar RM 50, kami pun masuk ke bagian check in dan berpisah dengan pasangan bapak ibu itu. Sebelum check in, ternyata kami harus mengambil nomor antrian dulu. Kami mendapat antrian check in nomor 532 dengan keterangan saat ini sedang melayani atrian nomor 90! suasana antrian check in di lobi First World HotelJika ingin membayangkan suasana antrian check ini ini, silahkan bayangkan suasana stasiun Senen saat waktu mudik Lebaran tiba. Ya, seperti itulah suasananya. Banyak orang yang lalu lalang bersama keluarganya. Beragam suku bangsa terlihat antri disini, mulai dari India, Arab, China, Melayu, hingga orang bule. Saking banyak dan ramainya, bangku yang disediakan pun tidak cukup menampung semuanya. Untungnya kami mendapat bangku kosong yang bisa ditempati. Beberapa TV LCD dipasang di dinding untuk menghibur mereka yang sedang mengantri. Tak lama istri saya pun terlarut membaca novel Meg Cabot yang dibelinya di Kinokuniya Suria KLCC kemarin malam, sedangkan saya asyik mengamati sekitar sambil sesekali menonton sajian film Mr. Bean yang sedang ditayangkan di LCD TV.

Setelah hampir putus asa menunggu selama 4 jam, akhirnya tibalah giliran kami untuk check in. Proses check in ternyata tidak menunggu waktu lama. Cukup tunjukkan bukti booking dari internet beserta paspor, lalu petugas akan memberikan kunci kamar yang berupa kartu magnetik. Kami memesan Deluxe Room Double Bed. Sayang, petugas memberitahu bahwa saat ini kamar yang kami booking hanya tersedia Twin Bed. Takut disuruh menunggu, kamar tersebut akhirnya kami terima. Kami mendapat kamar nomor 24-805-2. Arti nomor tersebut adalah kamar 805 yang terletak di lantai 24 tower 2. Untung saja lift di First World Hotel sangat cepat, sehingga hanya dalam hitungan detik, kami sudah sampai di lantai 24. Sampai di kamar, kami hanya menaruh barang bawaan dan membersihkan diri sebentar lalu turun kembali menuju First World Plaza.

Indoor Theme Park First World HotelDi First World Plaza, hal pertama yang kami cari adalah KFC. Dengan bantuan peta informasi yang saya print, kami bisa menemukan KFC. Seperti di KFC Suria KLCC, di KFC First World Plaza ini saya pun memesan paket Nasi Ayam dan Twister untuk istri. Ternyata harganya lebih mahal daripada di KL, yaitu RM 31. Meskipun begitu, kami rasa paket tersebut sudah cukup murah daripada harus makan di restoran hotel. Hal ini terbukti dari ramainya orang yang mengantri untuk makan di KFC. Selepas mengisi perut, kami lalu berputar-putar di area Indoor Theme Park. Untuk masuk ke Indoor Theme Park ini, kita tidak perlu membayar, karena letaknya memang ada di dalam Firts World Plaza. Kita hanya membayar jika akan menaiki salah satu wahana. Secara keseluruhan wahana yang ada tidak begitu banyak dan terkesan biasa. Bahkan jika dibandingkan dengan Dunia Fantasi Ancol, masih kalah bagus dan kalah banyak.

Ripley’s Belive It or Not Museum

Ripley's Believe It or Not Museumbersama manusia tertinggi di duniaSalah satu tempat menarik yang sempat kami kunjungi adalah Museum Ripley’s Believe It Or Not. Dengan RM 18/orang (RM 36) kami pun masuk ke dalam museum unik ini. Pada saat masuk, kami diminta berfoto dengan sebuah patung yang awalnya kami kira gratis, tapi ternyata saat keluar kami harus membayar RM 20 untuk cetak foto tersebut. Karena tak setiap waktu kami memiliki kesempatan ke sini, kami pun mengambilnya. Dalam museum ini, kita akan diajak menikmati segala keunikan yang ditemui di seluruh dunia yang dikumpulkan oleh Ripley. Mulai dari Patung Hamil (setiap wanita yang menyentuhnya konon akan hamil setelahnya) hingga sebuah mobil berlapis koin emas di sekujur bodinya. Bahkan tak hanya itu, terdapat pula patung lilin yang menunjukkan beberapa orang yang mampu selamat dari maut, meski mengalami luka yang parah. Mulai dari luka tertembus benda tajam di tubuh dan kepalanya hingga luka parah tercabik gigitan hiu. Beberapa hal menarik yang saya temui antara lain adalah puing kecil reruntuhan Kapal Titanic dan patung lilin manusia tertinggi di dunia. Juga sebuah patung lilin seorang turis bule yang berpose memotret istrinya yang sukses menipu karena kami kira itu asli manusia. Yang pasti kita harus membawa kamera jika memasuki museum ini. Tentunya untuk mengabadikan hal-hal unik di seluruh dunia. Seperti kami yang tak henti-hentinya berhenti di setiap sudut dan mengambil foto.

Mobil berlapis koin emas (koinnya banyak yang dicolong!)

Snow World

Tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah Snow World. Kami harus membayar RM 17/orang (RM 34) untuk masuk dan menikmati dinginnya salju. Begitu masuk, kita harus antri dan menyerahkan bukti tiket. Lalu kita harus memilih dan memakai jaket pelindung yang tebal. Snow World EntrySelanjutnya kita mengambil sepatu boots dan memakai sarung tangan tebal. Sementara itu, segala macam bawaan (khususnya sepatu atau sandal) dapat ditaruh di loker yang tersedia dengan memasukkan 2 koin 50 sen (RM 1). Setelah perlengkapan lengkap, kita bisa masuk ke arena permainan salju. Di dalam arena salju, ternyata hanya ada satu rumah kayu dan papan luncur beserta bar tempat kita menukarkan potongan tiket dengan es krim atau yogurt gratis. Selain itu tampak beberapa patung penguin, beruang salju, dan iglo. Sisanya tampak dua pasang bangku untuk berfoto dan beberapa pohon sakura imitasi. Satu wahana yang mungkin cukup seru adalah seluncur es dengan memakai ban besar. Untuk menikmatinya, kita harus naik dulu hingga ke atas. Setelah itu petugas akan membantu mendorong hingga kita dapat meluncur ke bawah. Selain itu, semuanya terkesan biasa saja. Tak ada ukiran patung dari es sebagaimana wahana dunia Salju yang sempat saya rasakan di BSM Mall Bandung beberapa tahun lalu. Terlebih lagi di tempat ini, kita dilarang mengambil foto. Untuk mengambil foto, petugas menyiapkan beberapa fotografer yang hasilnya dapat kita ambil dengan membayar sejumlah biaya lagi, tergantung ukuran fotonya.

Puas bermain salju, kami pun keluar dan langsung menuju tempat pengambilan foto. Dari 4 scene, akhirnya kami memilih 2 scene, satu foto ukuran 8R dan satu foto dalam bingkai 3 dimensi. Untuk semua foto itu, kami membayar RM 55 (doh!). Sebuah harga yang cukup mahal hanya untuk foto seperti itu. Tapi kami ambil juga, mengingat ini adalah liburan dan sepatutnya liburan itu harus kita nikmati (meski dompet menangis).

Shopping Time-First World Plaza Hotel

Setelah badan kembali hangat, kami pun melanjutkan dengan berputar First World Plaza sekali lagi. Mengingat besok siang kami akan check out, kami lalu mencari arah keluar dan mencari loket bus menuju KL Sentral. Beruntung loket belum tutup, dan kami pun memesan tiket untuk pukul 12.00 siang keesokan harinya dengan membayar RM 4/orang (RM 8). Hal ini kami lakukan mengantisipasi takut kehabisan tiket seperti saat akan berangkat ke Genting siang tadi. Setelah tiket di tangan, kami kembali menikmati First World Plaza dan memutuskan acara ke Outdoor Theme Park batal karena hari sudah malam dan udara semakin dingin.

@ Lovely Lace, First World PlazaMalam itu, akhirnya istri kembali mengeluarkan ringgitnya di sebuah toko pernak-pernik cantik, Lovely Lace. Sebuah album foto unik ditambah gantungan Teddy Bear dan kartu ucapan akhirnya kami beli seharga RM 46.7. Lelah berputar-putar dan udara dingin yang mulai terasa, mendorong kami melangkahkan kaki ke Starbucks. Satu mug besar Hazelnut Latte dan Green Tea Latte pun kami pilih sebagai penghangat tubuh. Total RM 31.5 kami keluarkan di Starbucks. Setelah tubuh kembali segar, kami memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum tutup (22.00) untuk memutar sekali lagi. Hingga tiba di sebuah warnet yang menggoda istri untuk online. Rate yang ditawarkan warnet ini lumayan mahal, yaitu RM 10 untuk 30 menit! Bandingkan dengan warnet di KL yang ratenya hanya RM 3 per jam. Hampir 30 menit, kami pun keluar dari warnet lalu mampir ke sebuah toko cinderamata dan membeli pembatas buku dari kaca beserta magnet kulkas khas Genting seharga RM 20. Tak hanya itu, saat melewati stand pameran kerajinan dari Vietnam, sebuah dompet hand made khas Vietnam sukses menggoda istri untuk menebusnya dengan RM 20.

Sebagai informasi, sebagian besar toko yang ada di First World Plaza adalah serupa dengan mall-mall lain yang ada. Hanya letaknya saja yang membuatnya istimewa dan tidak ada saingan, sehingga berani mematok harga lebih mahal dibandingkan mall lain. Menurut saya, jika memang tidak perlu dan tidak unik, tidak perlu membeli disini. Cukup sisakan waktu dan ringgit anda untuk dibelanjakan di Central Market ataupun di Chinatown, KL.

Setelah lelah dan ringgit di kantong menipis, kami kembali ke kamar dan beristirahat. Besok adalah waktunya berkemas dan menikmati waktu tersisa sebelum check out dan kembali ke Bandung.

To be continued…

5 thoughts on “KL Trip: Day #3

  1. hahahaha,kalo soal warnet emank mahal tu om.saya soalnya pernah jaga tu warnet.kl g slh,15RM buat 1 jam kan?mending kalo mw maen game,disamping starbucks dekat pavilion aj.disitu ad ps 3 sama nintendo wii nya.kl di KL 15 ringgit tu bisa buat paket begadang kali

  2. hahaha.kl warnet,disn emank mahal om.soalx wkt lalu saya jg jaga warnet disn.kl g slh tarif 15 rm bwt 1 jam kan?kl wkt lalu bawa laptop,mending internet distarbuck FW1 aj(gratis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s