The Kiosk: Iga Bakar Si Jangkung

Maknyuss lho, Pak Bondan…

Selama ini kalau kita mendengar yang namanya iga bakar pasti langsung terbayang daging iga yang masih menempel di tulang, dipanggang dengan bumbu saus barbeque, dan disajikan hangat bersama nasi putih pulen. Ternyata apa yang kita dengar tak semuanya benar. Terbukti dengan apa yang saya rasakan saat menghabiskan weekend kemarin di Bandung.

Perut lapar mendorong saya untuk menyetop angkot (turun) di depan Pizza Hut Dago (depan Dago Plaza, bukan Pizza HUT Bandung Indah Plaza). Bukan Pizza Hut yang dituju, bukan pula Hanamasa, tapi saya naik sedikit ke atas menuju The Kiosk Dago. Dalam sekejap, bau-bau menggugah selera masuk ke hidung.  Beragam kuliner khas yang jarang kita temukan tersedia di sini. Sebut saja Soto Sulung, Tahu Gejrot, Es Campur, Karedok, Ketupat Sayur, Tempe Penyet, Iga Bakar, hingga Laksa. Menuruti rekomendasi isteri, saya pun manut saja ketika dia memesan dua porsi Iga Bakar si Jangkung.

Tak lama sajian itu pun sampai di meja. Saya agak kaget juga melihatnya. Iga Bakar ini begitu sederhana tampilannya. Sepiring nasi putih disandingkan dengan satu cobek panas berisi iga bakar yang telah dipotong-potong dilumuri saus bumbu, potongan tomat, cabai, dan bawang dengan sedikit kuah yang masih mengepul. Sepintas mirip sate tanpa tusuk dicampur semur daging. Dengan penasaran (campur lapar) saya pun mulai menyantapnya.

Iga Bakar si Jangkung

Iga Bakar si Jangkung

Gigitan pertama, sangat terasa sekali empuknya daging iga ini. Daging yang empuk bercampur dengan rasa bumbu pedas, manis, dan sedikit panas semakin membuat saya ingin menyantap lagi. Sekilas, sensasi rasa yang ditawarkan mirip dengan rujak dicampur dengan semur daging. Manis dari kecap, pedas dari cabai, gurih dan lembut daging berpadu dalam mulut. Menyantap makanan ini, cukup membuat saya berkeringat. Sebotol kecil air mineral dingin lumayan menetralkannya.

Tak terasa, satu cobek Iga Bakar dan sepiring nasi telah berpindah tempat ke perut. Puas rasanya, kenyang perutnya. Sebenarnya saya masih ingin mencoba makanan lain di sini. Tapi apa daya, perut sudah penuh. Mungkin di lain waktu saya kembali dan mencoba menu lainnya.

Untuk dua porsi Iga Bakar si Jangkung, kami cukup membayar Rp 48.000,- dengan rincian  2 porsi Iga Bakar @Rp 19.000,- dan 2 porsi nasi putih @Rp 5.000,-. Harga yang cukup lumayan (mahal) untuk memanjakan lidah. Tapi, harga tersebut tentunya diimbangi dengan kenikmatan dan sensasi yang didapatkan kala menyantapnya. Belum lagi dengan suasana The Kiosk yang terasa nyaman dan sejuk. Hembusan angin dari luar dapat kita nikmati di sini. Saat memandang keluar, tampak lalu lintas Dago (Jl. Merdeka) dilatar belakangi Dago Plaza. Juga suasana yang terasa homy dengan barisan kursi kayu disandingkan dengan meja bulat. Dengan view berbagai macam stan kuliner tradisional terletak di tengah ruangan, sehingga selama menunggu atau saat makan kita bisa melihat cara masak para koki. Yang pasti rasa dan suasana seperti ini bisa membuat saya kembali…

Penasaran ingin mencoba? Silahkan datang ke sini. Patokannya adalah Pizza Hut Dago, sebelum Bank CIMB Niaga, persis di depan Dago Plaza. Letaknya di lantai 2 bangunan Pizza Hut dan Hanamasa. Jika ingin merasakan suasana warung tenda, Iga Bakar si Jangkung juga ada di Jl. Cipaganti (dekat dengan Masjid Cipaganti).

Selamat mancoba…

One thought on “The Kiosk: Iga Bakar Si Jangkung

  1. Pingback: The Kiosk #2: Tongseng! « enjoying some life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s